Sor Singgih Basa Bali merupakan salah satu penerapan bahasa dalam konteks. Sesungguhnya makna dan tujuan Bahasa yang dipakai itu sama saja atau memiliki arti dan maksud yang sama. Hanya saja pada tatanan masyarakat Bali, penggunaan atau penerapan Sor Singgih Basa ini dilibatkan dalam konteks kasta seseorang. Setiap pemilihan kata dalam Bahasa yang dipakai akan mengalami perubahan bentuk dan nilai sosial sehingga terjadilah penggunaan Sor Singgih Basa ini Bahasa ini.
Pemahaman terhadap Sor Singgih Basa
Bali in sejatinya tidaklah sulit, yang menjadi sulit adalah keterbatasan
pemakai Bahasa terhadap penguasaan kosakatanya. Secara prinsip, kita akan mulai
dari pengklasifikasian Sor Singgih Basa, untuk memudahkan atau menyederhanakan
pemahaman. Secara umum dalam tatanan pembicara (orang Bali), sor singgih dapat
dibedakan atau dijadikan menjadi empat bagian, yaitu;
(1) Basa Bali Alus,
(2) Basa Bali Ketah/Kapara,
(3)
Basa Bali Kasar,
(4) Basa Bali Mider
(lih. Kersten, 1970:15-20)
Dari empat klasifikasi Sor singgih ini, jangan sampai kita salah tangkap atau salah menginterferensikan. Sejatinya yang dimaksud dengan pengklasifikasian ini adalah tatanan tingkatan kosa kata atau nilai sosial dari kosa kata tersebut. Dengan demikian Ketika kita bicara tentang social culture orang Bali, dalam konteks kasta maka akan dilakukan pemilihan kata yang sesuai dengan golongan kastanya. Dengan demikian kalimat yang tersusun dari pemilihan kata ini menjadi sebuah tatanan Bahasa yang dikelompokan pada atau dalam sor singgih basa.
Secara garis besar, social culture yang terdapat di Bali pada konteks Bahasa dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu tinggi (basa alus), sedang (kepara/ ketah) dan rendah (kasar). Apabila kita bandingkan dengan teori pengklasifikasian sor singgih basa, maka untuk basa Bali Mider seolah tidak ada pengklasifikasiannya. Tetapi jangan salah paham, sesuai dengan klasifikasinya (Basa Bali Mider) yang dalam Bahasa Jawa Kuno “Mider” berarti Pengembara, Pergi kemana-mana, keliling. Sedangkan dalam Bahasa Bali bentuknya sudah berubah dan termasuk kata yang tak dikenali lagi bentuk dasarnya. Pada Bahasa bali sering kita temui kata “Ngider, Mangider, Maider-ider, dll”. Secara fungsional, kata-kata tersebut memiliki makna mengelilingi, jadi dalam konteks sor singgih basa Bali Mider ini artinya adalah kosa-kata yang bisa digunakan dalam kelompok atau tatanan level speech manapun dalam sor singgih Bahasa Bali. Hal yang medasari penggunaan kosakata berjenis Basa Bali Mider ini adalah karena tidak ada lagi kata pengganti pada kata tersebut untuk menentukan nilai lain dari nilai social budayanya.
Dengan
demikian kosa kata ini bisa saja digunakan dalam Bahasa Bali alus, Basa Bali
Ketah dan Kasar.
Sekali lagi kita tanamkan bahwa,
bahasa bicara/ lisan dan tulis adalah susunan kata yang membentuk sebuah
kalimat sampai dengan paragraf yang memiliki arti secara spesifik dan lugas,
yang mampu menyampaikan maksud pembicara / penulis kepada lawan bicara. Lalu,
“Apakah satu kata bisa dikatakan menjadi bahasa?” Menurut saya ini tidak,
karena satu kata belum memiliki kemampuan menyampaikan makna atau maksud secara
spesifik (saya garis bawahi; bukan arti). Jadi dalam konteks bahasa, kata
adalah komponen penyusunnya yang dimana tidak bisa berdiri sendiri. Dengan demikian,
dalam berbahasa dalam konteks lisan maka kata harus terdiri dari kata atau
komponen penunjang lainnya.
Sor singgih basa bali tersebut merupakan pengaturan bahasa yang diterapkan dama berbahasa lisan/ tulis Bali dengan melakukan pengaturan tatanan pemilihan kata yang disesuaikan atau disejajarkan dengan kedudukan atau kasta lawan bicara. Hal ini sesuai dengan budaya yang memang sudah menhatu dengan masyarakat Bali.
Kendatipun demikian, namun sejauh ini pada era digital ini sangat banyak kita temukan pemakai bahasa Bali sangat kesulitan jika sudah berhadapan dengan penggunaan basa sor singgih ini. Fenomena ini tentu menjadi lumrah dengan alasan atau dalih dari perkembangan zaman. Tetapi jika kita pikirkan kembali, maka kita yang sebagai penerus akan sangat berdusta apabila tidak mampu melestarikan bahasa Bali. Terlebih lagi banyak cendikiawan yang mengatakan bahwa bahasa adalah cerminan budaya.
Secara penerapan sor singgih basa bali
sebenarnya dapat kita simulasikan dengan sederhana, dengan cara sebagai berikut;
1. Kosa kata Alus + Kosa kata Mider = Basa Bali Alus
2. Kosa kata Keta/ kepara + Kosa kata mider = Basa Bali Ketah/Kapara
3.
Kosa kata kasar + Mider = Basa Bali Kasar
Puput.
Olih; I Wayan Kertayasa - https://babakanpole.blogspot.com/








0 comments:
Post a Comment